Oleh Rahadi Wangsapermana*
ZONAPERTAHANAN.COM, Jakarta - Langit di atas Tiongkok di kawasan Shenzhen tampak kelabu ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat. Dari balik jendela, garis-garis baja dan kaca memantulkan cahaya musim dingin. Kunjungan ini bukan perjalanan wisata. Saya datang untuk melihat dari dekat denyut industri pertahanan—sebuah ekosistem yang bekerja nyaris tanpa suara manusia di dalam kokpit.
Di salah satu kawasan industri pertahanan di Shenzhen yang terintegrasi dengan fasilitas riset dan manufaktur di kota teknologi tersebut, para insinyur memamerkan purwarupa demi purwarupa: pesawat udara tanpa awak, kapal permukaan tanpa awak, hingga kendaraan bawah air otonom. Istilahnya satu: unmanned. Unmanned Aerial Vehicle, atau kendaraan Tanpa awak. Tanpa pilot. Tanpa operator di dalam badan perangkat.
Bukan hanya alutsista. Konsep serupa merembes ke ranah komersial. Drone logistik melintas di antara gedung-gedung, kendaraan tambang bergerak tanpa sopir, hingga kapal survei laut yang dikendalikan dari pusat komando berjarak ratusan kilometer. Di layar-layar besar ruang kendali, manusia tetap hadir—namun tidak lagi berada di titik paling berbahaya.
Di sana saya menangkap satu pesan yang terasa konsisten: nyawa manusia ditempatkan sebagai variabel paling mahal dalam setiap persamaan teknologi. Prajurit tidak lagi diposisikan sebagai tameng pertama, melainkan sebagai pengendali sistem dari ruang aman. Risiko dipindahkan ke mesin; keputusan strategis tetap di tangan manusia.
Kita di Indonesia pernah mengalami luka yang sulit dilupakan. Pada 2021, kapal selam KRI Nanggala-402 milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut tenggelam di perairan Bali. Lima puluh tiga prajurit terbaik bangsa gugur. Kapal itu dinyatakan “subsunk”—tenggelam dan pecah di kedalaman ratusan meter. Sebuah tragedi yang menyadarkan kita bahwa di balik setiap sistem persenjataan, ada nyawa-nyawa terbaik bangsa.
Maka ketika berbicara tentang alutsista modern, diskusinya tak lagi cukup soal daya jelajah, daya hancur, atau kecanggihan sensor. Pertanyaannya bergeser: seberapa aman prajurit yang mengoperasikannya? Seberapa kecil peluang kita mengirim manusia ke situasi tanpa jalan pulang?
Paradigma unmanned yang saya saksikan di Tiongkok bukan semata unjuk gigi teknologi. Ia adalah refleksi strategi jangka panjang—meminimalkan korban, memaksimalkan kendali. Mesin boleh hancur, data bisa dipulihkan, tetapi nyawa tidak pernah memiliki cadangan.
Konsep ini juga relevan di sektor komersial. Dalam industri penerbangan tanpa awak, pertambangan otonom, hingga eksplorasi laut dalam, keselamatan operator menjadi prioritas desain. Risiko fisik digantikan dengan redundansi sistem, kecerdasan buatan, dan kendali jarak jauh.
Perjalanan ini menyisakan satu renungan: kekuatan militer abad ke-21 bukan hanya tentang siapa yang memiliki senjata paling mematikan, melainkan siapa yang paling mampu melindungi manusianya sendiri. Di ruang kendali yang senyap itu, saya melihat masa depan peperangan—dan mungkin juga masa depan industri—yang berusaha menempatkan manusia tetap sebagai pusat nilai, bukan korban statistik.
Dan kita, dengan sejarah dan pengorbanan yang pernah ada, semestinya membaca arah angin itu dengan jernih.